Kamis, 19 April 2012

Layak Dipercaya

Pembacaan alkitab, kejadian 39:1-23

Sebab itu kepala penjara
memercayakan semu
tahanan dalam penjara
itu kepada Yusuf,
dan segala pekerjaan
yang harus dilakukan
di situ, dialah yang
mengurusnya
(KEJADIAN 39:22)


S
aya mengenal sebuah persekutuan gereja-gereja mengusung tema tahunan: “ Komunitas yang Layak Dipercaya”. Gereja ini sadar bahwa kesaksian hidup umat kristen secara utuh mesti sedemikian mantap  hingga membuat siapapun yang berurusan dangannya juga merasa mantap, nyaman, tentram, dan aman. Namun, dalam tempat atau situasi tertentu, bisa jadi praktiknya tidak mudah.

Perbedaan tempat, perbedaan situasi tidaklah meredupkan kualitas Yusuf. Di mana pun ia berada, orang percaya kepadanya dan memercayakan pekerjaan penting kepadanya. Di rumah Potifar yang mewah, maupun dalam penjara yang keras (ayat 4, 22). Mengapa bisa demikian? Karena Yusuf terampil dalam hal manajemen? Bisa jadi. Namun bagi penulis kitab kejadian, alasan utamanya karena “Tuhan menyertai Yusuf dan membuat apa yang dikerjakannya berhasil” (ayat 2,23). Yusuf menyadari hal itu. Ia tahu Tuhan memperhatikan pilihan-pilihan yang ia ambil saat bekerja (ayat 9), karena itu tentu ia senantiasa melakukan yang terbaik sebagai wujud nyata cinta dan kasihnya pada Tuhan.

Semua orang tentu ingin disertai Tuhan seperti Yusuf dan berhasil. Namun, apakah kita juga sungguh menyertakan Tuhan dalam apa yang kita kerjakan? Menyertakan Tuhan berarti peduli terhadap pilihan-pilihan yang selaras dengan Firman-Nya, apapun situasinya. Pilihan-pilihan yang demikian dapat dipercaya. Sudah seharusnya orang-orang bersentuhan hidup dengan kita merasa mantap dan aman, karena tahu mereka berurusan dengan anak-anak Tuhan dalam segala perkara.


Ketika Tuhan menyertai, kita pun harus mau diajari
bagaimana membuat pilihan yang selaras dengan kehendak-Nya.





Dia Pasti Datang

Pembacaan alkitab, 1 tesalonika 5:1-11

...karena kamu
sendiri tahu benar-
benar bahwa hari
Tuhan datang
seperti pencuri
pada malam
(1 TESALONIKA 5:2)


D
alam kaitan dengan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, ada kelompok orang kristiani yang disebut eschatophobia, yaitu mereka yang tidak suka membahas topik ini. Mereka tidak peduli dan mengabaikan setiap kebenaran Yang berkenaan dengan kedatangan Kristus yang kedua kali.

Namun, dengan jelas Alkitab menandaskan bahwa suka atau tidak suka, Kristus akan datang untuk kedua kalinya. Setiap kita pasti akan berhadapan dengan hari istimewa itu, entah semasa kita hidup atau ketika kita sudah meninggal. Akan tetapi, kedatangan-Nya juga tidak dapat ditentukan karena sifatnya seperti pencuri dimalam hari (ayat 2). Kebenaran ini mendorong setiap kita untuk memiliki pandangan dan sikap yang tepat terhadap topik ini. Yang pertama berkenaan dengan nasib kita di hari penghakiman kelak. Dikatakan dengan jelas bahwa kelak, hanya mereka yang sungguh percaya kepada Kristus yang akan luput dari murka Allah (ayat 9). Yang kedua adalah sikap hidup yang sewajarnya kita tampakkan dalam menantikan perjumpaan dengan-Nya. Dalam kedua hal ini kita pantas mawas diri.

Apakah anda telah memiliki kepastian bahwa Anda akan hidup bersama Dia kelak? Dari mana Anda mengetahuinya? Kemudian, jikalau kita mengaku sebagai anak terang dan anak siang (ayat 5), cara hidup seperti apakah yang selama ini kita tampakan? Kira-nya kepastian keselamatan kita memiliki tumpuan yang kuat dan cara hidup kita memperlihatkan kepastian yang kita miliki itu.


Terhadap janji kedatangan-Nya, tak pernah saya ragu;
hidup saya sekarang menunjukkan keyakinan itu.


Kasih dan Hukuman

Pembacaan alkitab, Hosea 5:8-6:6

Mari kita, akan berbalik
kepada Tuhan, sebab
Dialah yang telah
menerkam dan yang
akan menyembuhkan
kita, yang telah
memukul dan yang
akan membalut kita
(HOSEA 6:1)


P
ernakah Anda mendengar ungkapan: “Anda tidak dapat mengasihi tanpa memberi”? Kasih kerap kali diidentikkan dengan tindakan memberi. Pemahaman ini tidak keliru, hanya tidak lengkap, karena kasih juga bisa diwujudkan dalam bentuk hukuman. Tujuannya, supaya orang yang dikasihi menyadari kesalahannya.

Demikian halnya seruan Hosea kepada umat Israel yang pada saat itu hidup dalam penyembahan berhala dan kefasikan. Digambarkan disini, Efraim terserang penyakit dan Yehuda terserang bisul. Bukannya berlari kepada Tuhan, mereka malah ke Asyur, minta penyembuhan kepada raja ‘Agung’ (ayat 13). Akibat dari ketidak setiaannya, mereka menerima hukuman yang tak ringan: Tuhan “menerkam” dan “memukul” mereka (ayat 1). Tuhan menghendaki umat pilihan hidup setia dan percaya kepada pribadi dan kuasa-Nya, bukan kepada berhala atau ilah lain. Tuhan menghukum supaya hidup umat pilihan kembali seturut perintahnya. Dalam hukuman terselip kasih Allah kepada Israel. Dan, siapapun yang berbalik; mengaku salah dan mencari riwayat-nya (ayat15) akan dipulihkan – Dia “sembuhkan” dan “balut” (ayat 1) serta Dia “hidupkan” (ayat 2).

Kita meyakini bahwa Allah mengasihi kita. Namun, saat kita membelakangi Allah, kasih-Nya kerap kali dinyatakan melalui penghukuman. Hukuman menjadi sarana Allah mendisiplin kita. Bagaimana respons kita saat menerima disiplin dari Allah? Bersyukurlah untuk kasih-Nya. Jangan mengeraskan hati. Kini saatnya berbalik, mengaku bersalah, dan kembali mencari wajah-Nya.


Saat kita memilih untuk menempuh jalan yang salah,
hukuman dapat mengembalikan kita melangkah di jalan Allah.