Selasa, 02 Oktober 2012

Bilamana Dia Turun


Pembacaan alkitab, kisah para rasul 1:6-11

Tetapi kamu akan
menerima kuasa bilamana
Roh Kudus turun ke atas
kamu, dan kamu akan
menjadi saksi-saksi-Ku di
Yerusalem dan di seluruh
Yudea dan Samaria dan
sampai ke ujung bumi."
(KISAH PARA RASUL 1:8)



Pada setiap hari Minggu Pentakosta, dimulai sejak tahun 2000, orang-orang percaya dari semua negara dan denominasi gereja, berkumpul di berbagai tempat dalam Gerakan Hari Doa Sedunia, untuk berdoa bagi dunia: “Raja kemuliaan, datang dan selesaikanlah karya-Mu di kota, masyarakat, dan bangsa kami.”

Gerakan ini didasarkan pada teladan persekutuan doa para rasul setelah Yesus Kristus naik ke surga (ayat 13-14). Inilah tanggapan imam mereka terhadap janji Tuhan tentang turunnya Roh Kudus (ayat 8). Banyak orang mengingat Roh Kudus sebagai Penolong dan Penghibur; tetapi kerap lupa bahwa tujuan utama kedatangan-Nya adalah untuk memberi kuasa kepada murid-murid Kristus agar dapat menjadi saksi sampai ke ujung bumi. Roh Kudus bukan turun untuk membuat urusan kita lancar dan hati kita senang, melainkan untuk memenuhi bumi dengan kemuliaan Tuhan. Ketika kita setia menjadi saksi-Nya, Roh Kudus akan menolong dan menguatkan, bahkan saat-saat tersulit sekalipun (lihat Markus 13:9-11).

Ketika kita percaya, kita telah menerima Roh Kudus (Efesus 1:13-14). Apakah kita menyadari kehadiran-Nya yang berkuasa dan menundukkan diri pada tuntunan-Nya? Dia hadir agar dunia dapat melihat bagaimana
Kristus dimuliakan di dalam dan melalui hidup murid-murid-Nya. Hidup yang dipenuhi kegairahan berdoa dan belajar firman; hidup yang berani menyatakan kebenaran Tuhan di segala situasi; hidup yang mewartakan anugerah keselamatan bagi semua suku bangsa.





Roh Kudus hadir bukan untuk memenuhkan segala keinginan kita.
Dia hadir untuk memampukan kita memenuhi keinginan Tuhan.



Senin, 01 Oktober 2012

Syukurin!


Pembacaan alkitab, obaja 8:16

Janganlah
memandang rendah
saudaramu pada hari
kemalangannya.
(OBAJA 12)


“Syukurin ,” gumam seorang teman ketika tokoh antagonis sebuah film dihajar habis-habisan. Memang beberapa sutradara begitu pintar menyusun plot cerita hingga tidak jarang memancing reaksi dari dasar hati penonton. Dalam kenyataan, kita senang melihat orang jahat menelan buah pahit perbuatannya. Bisa jadi itu salah satu jawaban doa kita. Akan, tetapi apakah Tuhan juga senang dengan hal itu?

Bangsa Edom bersukacita ketika Israel saudaranya mengalami malapetaka, bahkan ikut menindas bangsa yang sudah terpuruk itu (ayat 10-11). Catatan Perjanjian Lama menunjukkan kehancuran kerajaan Israel dan Yehuda diakibatkan oleh pemberontakan mereka terhadap Tuhan. Salahkah jika Edom menyambut penghancuran mereka dengan bersemangat? Tuhan dengan jelas menentang Edom (ayat 12-14). Dalam bagian lain, Tuhan sendiri berkata bahwa Dia menghendaki pertobatan, bukan kematian orang fasik (lihat Yehezkiel 33:11). Seharusnya Edom gentar dan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Jika Tuhan tidak segan menghajar umat pilihan-Nya sendiri, bagaimana mungkin mereka berpikir mereka bisa luput (ayat 15-16)?

Penghukuman Tuhan dimaksudkan agar manusia bertobat dan terhindar dari penghukuman kekal. Ketika ada saudara yang jatuh dalam dosa dan didisplin Tuhan, seharusnya kita berbelas kasih dan mendoakan agar pengalaman itu membawa mereka makin mengenal Tuhan dan taat kepada-Nya. Dan, seharusnya kita tidak mengulangi kasih mereka. Dengan gentar di hadapan Tuhan yang kudus, kita perlu memohon kasih karunia untuk menjalani hidup yang berkenan di hadapan-Nya.





Kita adalah sesama pendosa yang menerima pengampunan.
Bencilah dosa, tetapi kasihanilah sesama yang terbelenggu dosa.






Ampunilah dan Lupakanlah


Pembacaan alkitab, yesaya 43:22-28

"...Akulah Dia yang
menghapus dosa
pemberontakanmu oleh
karena Aku sendiri, dan
Aku tidak mengingat-
ingat dosamu."
(YESAYA 43:25)


Amy Charmichael, seorang wanita Irlandia yang melayani di India selama 55 tahun, termasuk penulis yang produktif. Dalam salah satu bukunya, If (1953), ia menulis: Jika aku berkata, “Ya, aku memaafkan perbuatanmu, tetapi tidak dapat melupakannya,” seolah-olah Allah, yang ada dua kali sehari membasuh ingatan buruk semacam itu dari pikiranku, maka aku tidak tahu apa-apa tentang kasih Kalvari.

Kasih Kalvari menunjukkan pengampunan Tuhan yang luar biasa bagi manusia yang patut dibinasakan. Perhatikan teguran Tuhan melalui Yesaya: umat-Nya telah memberarti Tuhan dengan dosa, menyusahi-Nya dengan kesalahan (ayat 24). Sangat adil jika mereka dibinasakan. Namun, Tuhan berkenan menghapus dosa mereka, dan tidak lagi mengingat-ingatnya (ayat 25). Bukankah Tuhan Maha Pengingat? Tak mungkin Dia lupa dengan pemberontakan mereka. Dia tidak “mengingat-ingat” menunjukkan bahwa Dia tidak akan mengungkit dosa-dosa itu untuk menentang dan menghakimi mereka.

Hal “mengampuni” kerap menjadi kendala bagi banyak orang. Ketika merasa disakiti, diperlakukan tidak adil, dirugikan, atau dikhianati, tak jarang kita menyimpan amarah terhadap orang yang menyakiti kita, bahkan dendam. Mungkin kita berkata bahwa kita bersedia memaafkan, tetapi hati kita tidak. Siapakah kita? Orang-orang yang patut dimurkai dan dibinasakan! Namun, Allah bersedia mengampuni kita dan melupakan dosa-dosa kita! Lebih hebatkah kita dari Allah sehingga kita tidak harus memaafkan sesama kita dan melupakan kesalahannya? Harapkanlah anugerah dan pertolongan-Nya, lalu ampunilah dan lupakanlah.




Pengampunan Allah yang sempurna memampukan seseorang
melakukan hal yang sama terhadap sesamanya.