Selasa, 13 November 2012

Lupe


Pembacaan alkitab,  lukas 22:39-46

Sesudah itu bangkit 
dari doa-Nya dan kembali
kepada murid-murid-
Nya, tetapi Ia mendapati 
mereka sedang tidur
karena berdukacita. Kata-
Nya kepada mereka:
"Mengapa kamu tidur?
Bangunlah dan berdoalah,
supaya kamu jangan jatuh
ke dalam pencobaan."
(LUKAS,  22:45-46)



Lupe. Ya, Anda tidak salah baca. Judul ini sengaja dipilih agar tidak mudah dilupakan. Lupe (baca: loo’-pay) adalah bahasa Yunani untuk dukacita, perasaan yang berat, gundah, penuh derita dan kesedihan karena menghadapi saat-saat sulit yang tak terhindarkan. Apa yang biasanya Anda lakukan ketika mengalaminya? Ada yang suka bepergian atau berkumpul dengan teman untuk melupakan masalah. Beberapa lainnya mungkin seperti saya, tidur! Harapannya, dengan tidur, kita tidak lagi lupe atau tidak lagi menderita.

Para murid juga dicatat tidur karena dukacita. Mungkin mereka awalnya berdoa seperti saran Yesus, tetapi karena lelah fisik dan pikiran, mereka pun terlelap. Bisa juga mereka memang memilih tidur karena tak sanggup lagi berdoa. Jika kesulitan tak dapat dihindari, apa gunanya berdoa? Yesus menegur mereka. Berdoa itu vital agar mereka jangan jatuh dalam pencobaan (ayat 46). Makin sulit situasinya, makin perlu kita terhubung dengan Bapa. Yesus sendiri dalam raga manusia gentar dan ingin menghindari penderitaan. Sebab itu, Dia berdoa, memohon agar dalam saat paling kelam, Dia dapat berespons seturut kehendak Bapa (ayat 42). Dengan kekuatan dari Bapa, Yesus menghadapi salib. Murid-murid-Nya? Lari dan menyangkal Yesus.

Iblis tahu bahwa ketika kita terhubung dengan Bapa, kita akan beroleh kekuatan untuk tetap taat melakukan kebenaran, seberat apa pun risikonya. Sebab itu, ia akan menghalangi kita dengan segala cara untuk berdoa. Menjelang kedatangan Kristus kembali, ia akan makin gencar mencobai anak-anak Tuhan. Mari hidup dengan berjaga-jaga dan berdoa. Yesus berjanji, kita akan beroleh kekuatan yang kita perlukan (Lukas 21:36).





Berdoa memampukan kita melakukan kehendak Bapa.
Cobaan iblis berusaha menggagalkannya.



Senin, 12 November 2012

Bukan Sekadar Lewat


Pembacaan alkitab, mazmur 1:1-6

"Berbahagialah
orang ... yang
kesukaannya ialah
Taurat TUHAN, dan
yang merenungkan
Taurat itu siang
dan malam."
(MAZMUR 1:1-2)



Donald S. Whitney mengamati bahwa “banyak jiwa yang merana adalah para pembaca Alkitab yang tekun.” Mengapa? Karena mereka hanya membaca saja, dan tidak merenungkannya. Ia menulis, “Jika  kita tidak hati-hati, perkataan Alkitab hanya akan menjadi aliran kumpulan kata yang melewati pikiran kita. Segera setelah kata-kata itu lewat dalam pikiran kita ... kita harus segera mengalihkan perhatian pada hal yang sekarang ada di hadapan kita. Ada begitu banyak hal yang harus kita olah dalam otak kita; jika kita tidak menyerap beberapa di antaranya, tidak ada yang akan memengaruhi diri kita.”

Yang disebut pemazmur “berbahagia” juga bukan orang yang sekadar membaca firman Tuhan, tetapi yang merenungkannya siang dan malam. Merenungkan firman Tuhan berarti menyerapnya masuk dalam sistem berpikir kita. Pikiran yang dipengaruhi firman Tuhan inilah yang membuat orang tidak lagi suka berdekatan dengan dosa (ayat 1). Orang yang suka merenungkan firman Tuhan diibaratkan seperti pohon di tepi aliran air. Agar tidak layu, air haruslah diserap dan mengaliri semua bagian di dalam pohon itu, bukan sekadar lewat.

Seberapa banyak Anda “merenungkan” firman Tuhan selama ini? Pakailah 25-50 % waktu pembacaan Alkitab untuk merenungkan satu ayat, frasa, atau kata. Lontarkan pernyataan. Berdoalah. Buatlah catatan tentang hal itu. Pikirkan sedikitnya satu cara untuk menerapkannya. Jangan buru-buru. Benamkan diri Anda dalam firman. Jangan lagi biarkan jiwa Anda merana karena karena tak sempat menyerap apa-apa. Biarkan firman itu mengaliri dan menyegarkan Anda, memengaruhi hidup Anda dan membuat Anda berbuah-buah pada musimnya.





Makin banyak membaca Firman, makin kita akan menguasainya.
Makin banyak merenungkan firman, makin kita akan dikuasainya.



"Tetapi" untuk Tuhan?

Pembacaan alkitab, daniel 1

Daniel berketetapan
untuk tidak menajiskan
dirinya dengan santapan
raja dan dengan anggur
yang biasa diminum raja;
dimintanyalah kepada
pemimpin pegawai istana
itu, supaya ia tak usah
menajiskan dirinya.
(DANIEL 1:8)



Apakah Anda adalah orang yang menaati Tuhan dengan segenap hati? Ataukah, Anda punya pengecualian jika dihadapkan pada situasi-situasi khusus? “Saya mau taat, tetapi dalam situasi ini semua orang juga pasti melakukannya.” “Saya mau taat, tetapi untuk urusan seperti ini tak mungkin bisa jujur.” “Saya mau taat, tetapi apa salahnya mengikuti syarat peningkatan jabatan dengan beralih keyakinan, bukankah itu hanya formalitas saja?” “Saya mau taat, tetapi kesempatan ini sungguh sayang jika dilepas begitu saja.”

Bayangkanlah Anda ada pada posisi Daniel. Meski ia termasuk seorang buangan di Babel, ia adalah seorang pemuda dari kaum bangsawan dan punya keunggulan dibanding yang lain (ayat 4). Dengan modal itu ia punya kesempatan dididik secara khusus dan nantinya bekerja bagi raja. Ia dan kawan-kawannya bahkan ditawari makan dan minum dari santapan raja (ayat 5). Siapa pun pada zaman itu pasti mau. Lantas, apa yang dilakukan Daniel dan kawan-kawannya? “Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja” (ayat 8). Seolah-olah ia mau berkata: “Jabatan dan kesempatan itu menggiurkan, tetapi saya hanya mau taat kepada Allah,” bukan “Saya tahu santapan itu menajiskan, tetapi jabatan dan kesempatan itu mungkin bisa menjadi sarana diplomasi.” Kata “tetapi” ditujukan kepada raja, bukan kepada Tuhan.

Integritas dan iman kita sebagai orang kristiani akan kerap mendapat ujian. Setiap keputusan membawa risiko. Akankah kita taat dalam segala situasi? Pilihan-pilihan kita menunjukkan seberapa berharga Tuhan dibanding kedudukan, keamanan, atau kenyamanan yang ditawarkan dunia.




Jangan ada kata "tetapi" dalam menaati Tuhan.
Penyertaan-Nya akan meneguhkan dan memampukan.