Jumat, 12 April 2013

Pelayanan Rumah


Pembacaan alkitab, markus 1:29-34

Sekeluarnya dari
rumah ibadat itu Yesus
bersama Yakobus
dan Yohanes pergi
ke rumah Simon
dan Andreas.
(MARKUS 1:29)
Aada beberapa peristiwa dalam kehidupan Yesus, termasuk beberapa pengajaran dan mukjizat penting, dilakukan saat Yesus berada di rumah-rumah atau dipicu oleh peristiwa-peristiwa dalam rumah. Ya, rumah, bukan sinagoge tempat orang Yahudi ramai berkumpul, atau gelanggang yang menjadi pusat perhatian publik. Bacaan hari ini merupakan sebuah contoh bahwa rumah merupakan tempat yang penting bagi berlangsungnya pelayanan.

Setelah melayani di rumah ibadah pada hari Sabat, Yesus pergi ke “rumah Simon dan Andreas” (ayat 29). Sekadar bersilaturahmikah kunjungan itu? Ada kemungkinan untuk itu. Menariknya, dari kunjungan itu, setidaknya ada dua peristiwa yang dicatat. Pertama, Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus (ayat 31); kedua, Yesus menyembuhkan banyak orang yang menderita berbagai penyakit dan mengusir banyak setan (ayat 34). Pelayanannya, selain menyentuh keluarga Simon dan Andreas, juga menyentuh kehidupan banyak orang yang datang. Selain tempat-tempat terbuka atau tempat ibadah orang Yahudi, Yesus juga melayani di rumah-rumah; dari berbagai kalangan. Beberapa kisah lain adalah saat Dia singgah di rumah pemungut cukai, kunjungannya ke rumah Maria dan Marta, juga saat bertemu di rumah Zakheus.

Banyak orang belum memiliki hubungan dengan gereja. Atau bahkan memendam kekecewaan tertentu kepada gereja, sehingga enggan melangkah ke sana. Mari memikirkan satu aspek pelayanan penting ini: pelayanan rumah. Dengan diiringi doa, kita bisa mulai memikirkan satu-dua orang yang akan kita kunjungi, supaya ada banyak orang juga yang dijangkau bagi Kristus lewat pelayanan semacam ini—keluarga kita, sahabat, kolega. Siapa pun.



Silaturahmi itu sebuah tradisi, tetapi kunjungan murid Kristus
berpotensi menjadi misi kristiani.


Kdrt


Pembacaan alkitab, 1 petrus 3:1-7

Demikian juga kamu, hai
isteri-isteri, tunduklah
kepada suamimu ...
Demikian juga kamu,
hai suami-suami,
hiduplah bijaksana 
dengan isterimu ...
(1 PETRUS 3:1,7)
Dalam situs telaga.org, Pendeta Tadius Gunadi menegarai bahwa Kekerasan dalam Rumah Tangga (KdRT) adalah persoalan yang kompleks. Menurut pengamatannya, kekerasan kerap digunakan sebagai alat untuk mengekspresikan kemarahan; mengumbar kekuasaan; menyeimbangkan posisi dalam pernikahan. Apa jadinya jika nilai-nilai ini dianut oleh anggota keluarga kita?

Rasul Petrus, dalam suratnya yang pertama, mengangkat nilai-nilai yang penting dalam keluarga. Yang pertama dan diulang dalam 6 dari 7 ayat bacaan kita (dan selalu sama gemanya dalam bagian lain di Alkitab), adalah tentang ketundukan isteri kepada suami. Perhiasan terindah bagi seorang isteri adalah ketundukan kepada Allah, yang tercermin dari ketundukannya pada sang suami (ayat 3-5). Dandanan lahiriah mungkin bisa menundukkan suami sesaat, namun isteri yang hidup murni dan saleh dapat membawa suaminya menundukkan diri di bawah kebenaran firman Allah. Meski hanya satu ayat, pesan senada disampaikan pada para suami. Ketundukan pada Allah akan membawa suami menghargai isteri sebagai sesama pewaris kasih karunia-Nya, bukan memanfaatkan atau menyerang kelemahan-kelemahannya. Suami yang tidak merawat hubungan dengan isterinya dengan baik, akan mengalami kesulitan juga dalam menikmati hubungan yang indah dengan Allah (ayat 7).

Jadi, jika meneladan dan mengikuti firman Allah, keluarga semestinya bukan sasana untuk mengumbar kekerasan, baik dalam bentuk perkataan yang memojokkan, maupun tindakan fisik yang menyakitkan. Mari kembali pada rancangan Tuhan. Sama-sama menempatkan ketundukan dan kasih pada Tuhan di atas segalanya. Kiranya kasih yang bersumber dari Allah tinggal dengan limpahnya di tengah keluarga kita.



Kdrt = Kasih dalam Rumah Tangga


Kok Bisa, Ya?


Pembacaan alkitab, hakim-hakim 2:6-14

Setelah seluruh angkatan
itu dikumpulkan kepada
nenek moyangnya,
bangkitlah sesudah
mereka itu angkatan 
yang lain, yang tidak
mengenal TUHAN
ataupun perbuatan
yang dilakukan-Nya
bagi orang Israel
(HAKIM-HAKIM 2:10)
“Kok bisa, ya? Padahal orangtuanya tidak begitu.” Anda mungkin pernah mendengar ekspresi demikian ketika anak-anak muda dianggap tidak mengikuti teladan orangtuanya. Misalnya saja sang bapak pendeta, tetapi si anak terjerat narkoba; sang ibu guru Sekolah Minggu, tetapi si anak biang keributan. Herankah Anda? Atau Anda bisa melihat fenomena serupa?

Saat mengamati ayat ke-10, mungkin Anda juga bertanya, “Kok bisa, ya?” Bukankah ayat 7 mencatat bahwa sepanjang hidup Yosua dan para tua-tua yang pernah dipimpinnya, bangsa Israel setia beribadah kepada Tuhan? Bagaimana mungkin angkatan sesudah mereka tak lagi mengenal Tuhan? Kita tak tahu pasti prosesnya, tetapi akibatnya terekam jelas; terbentuk generasi baru yang melakukan kejahatan di mata Tuhan, berpaling menyembah ilah lain (ayat 11-13). Sebab itu, Tuhan murka dan menyerahkan mereka ke tangan musuh (ayat 14). Besar kemungkinan, Ulangan 6:4-9 tidak lagi diterapkan secara konsisten oleh para orangtua. Ibadah-ibadah raya mungkin tetap berlangsung, tetapi anak-anak tidak memahami apa bedanya dengan ibadah bangsa lain. Mereka mungkin melihat ritualnya, tetapi tak mengenal Tuhan-nya.

Lebih dari sekadar memperkenalkan gedung gereja dan membawa anak ke Sekolah Minggu, orangtua bertanggung jawab memperkenalkan Tuhan kepada anak-anaknya. Dari hati yang mengenal dan mencintai Tuhan, akan lahir sikap beribadah kepada-Nya. Gereja perlu lebih bersungguh hati memperlengkapi para orangtua untuk bisa mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak, dan makin sering mengumandangkan peringatan ini: kelalaian generasi kita dapat menyebabkan kehancuran bagi generasi berikutnya.



Pengenalan akan Tuhan yang dipelihara di tiap keluarga akan
mewariskan iman yang bertumbuh pada generasi berikutnya.