Selasa, 16 Juli 2013

Perlu Dirangkul

Pembacaan alkitab, 2 korintus 2:5-11

... supaya Iblis jangan
beroleh keuntungan
atas kita, sebab kita
tahu apa maksudnya.
(2 KORINTUS 2:11 TB)
Pernakah Anda melakukan kesalahan? Bagaimana perasaan Anda ketika dalam situasi yang demikian, orang-orang menyerang dan menyalahkan Anda? Ada dua kemungkinan. Anda akan menyalahkan diri sendiri secara berlebihan, menarik diri agar tidak melakukan kesalahan baru. Atau, Anda akan membela diri, berusaha menunjukkan bahwa Anda bukan satu-satunya yang patut dipersalahkan. Masalah tidak dibereskan secara objektif, hubungan pun terancam rusak.

Merusak hubungan antar sesama anggota tubuh Kristus adalah strategi favori Iblis. Ia tahu anak-anak Tuhan harus saling melengkapi untuk mengerjakan tujuan-tujuan Tuhan di dunia ini. Paulus sangat menyadarinya. Sebab itu, ia memberi peringatan kepada jemaat di Korintus. Tersirat dari bacaan kita, mereka sedang memiliki masalah dengan salah seorang saudara. Teguran demi teguran diberikan. Tapi orang yang bersalah tidak butuh lebih banyak teguran, melainkan pengampunan dan penghiburan untuk menolongnya kembali ke dalam persekutuan dan memperbaiki sikapnya (ayat 7). Tanpa itu ia akan terus terpuruk dengan rasa bersalah dan tidak ditolong untuk bertumbuh.

“Kasihi dia dengan sungguh-sungguh,” (ayat 8), adalah nasihat yang juga harus dipraktikkan dalam komunitas kita hari ini. Tuhan rindu kita saling membangun dalam pekerjaan baik yang memuliakan Dia. Sebaliknya, Iblis berusaha membuat kita saling menyakiti, sehingga Tuhan yang kita sembah tidak dihormati orang. Bagaimana kita bersikap satu sama lain? Kesalahan perlu ditegur, tetapi orang yang bersalah perlu dirangkul untuk bangkit kembali. Jangan biarkan Iblis beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya!   


Orang yang bersalah membutuhkan pengampunan.
Juga, dorongan untuk kembali hidup memuliakan Tuhan.

Minggu, 07 Juli 2013

Mengutamakan Pilihan Tuhan

Pembacaan alkitab, 1 tawarikh 28:1-10

Camkanlah sekarang,
sebab TUHAN telah
memilih engkau untuk
mendirikan sebuah
rumah menjadi tempat
kudus. Kuatkanlah
hatimu dan
lakukanlah itu.
(1 TAWARIKH 28:10)
Seorang teman pernah menceritakan pergumulannya menjelang lulu kuliah. Ia sangat terbeban untuk mengajar anak-anak, tetapi orangtuanya mengharapkan ia meneruskan usaha keluarga. Jika menolak, ia akan dianggap anak tidak berbakti. Jika menuruti, ia merasa tidak sedang mengerjakan penggilan hidupnya. Apa yang harus ia lakukan? Cerita teman saya mungkin mewakili pergumulan banyak keluarga. Orangtua dan anak punya cita-cita berbeda. Mana yang harus diikuti?

Bagian Alkitab yang kita baca membuat saya kembali merenungkan masalah tersebut. Di depan banyak orang, Daud memberi amanat kepada Salomo untuk menjadi penerus kerajaan sekaligus membangun rumah Tuhan. Apakah ini wujud egoisme Daud untuk meraih cita-citanya yang belum kesampaian? Ayat 5-10 memberitahu kita bahwa Daud memilih Salomo bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi karena mengenali pilihan Tuhan atas anaknya yang satu itu. Ia pun berupaya sebaik mungkin mendukung selagi ia hidup. Tak hanya memberi semangat dan nasihat, Daud menyiapkan rancangan, bahan, dan personil untuk menunjang tugas Salomo.

Alangkah indahnya jika anak-anak dan orangtua bersama mencari dan mengenali apa yang Tuhan ingin mereka kerjakan dalam hidup ini. Anggota keluarga saling mendukung, saling melengkapi. Bukan aktualisasi diri atau cita-cita masa lalu yang jadi fokus, melainkan tujuan Tuhan yang menciptakan tiap orang secara unik. Hari ini, pikirkanlah bagaimana Anda dan sesama anggota keluarga dapat mengenali tujuan Tuhan dalam hidup masing-masing, dan bagaimana Anda dapat saling menolong satu sama lain untuk mewujudkannya.  



Ada panggilan unik yang Tuhan persiapkan bagi setiap anak-Nya.
Dia mau kita temukan itu dan hidup di dalamnya.

Sabtu, 06 Juli 2013

Penyebab Khawatir

Pembacaan alkitab, lukas 12:22-34

"Karena itu Aku berkata
kepadamu: Janganlah
khawatir tentang
hidupmu, mengenai
apa yang hendak kamu
makan, dan janganlah
khawatir pula tentang
tubuhmu, mengenai
apa yang hendak
kamu pakai".
(LUKAS 12:22)
Seseorang pernah menuliskan demikian: Jika makanan disadari sebagai penyambung hidup—bukan untuk memenuhi dan mengejar selera—masihkah manusia khawatir? Jika pakaian awalnya adalah untukmenutupi ketelanjangan—bukan untuk menghias tubuh—masihkah manusia khawatir? Dalam kenyataannya, rasa khawatir kerap menggeser rasa syukur yang seharusnya ada saat kebutuhan-kebutuhan dasar kita terpenuhi.

Tuhan Yesus, dalam satu kesempatan pengajaran, mengajak para murid untuk mempertimbangkan dua makhluk ciptaan lainnya. Burung gagak yang oleh bangsa Yahudi dianggap najis atau haram (lihat Imamat 11), tidak punya hikmat untuk membuat dan menyimpan makanan seperti manusia, tetapi Tuhan memberika mereka makan (ayat 24). Bunga bakung—yang masuk golongan bunga Anemon liar—tak punya kreativitas menenun bahan pakaian seperti manusia, tetapi Tuhan menghiasnya dengan keindahan yang lebih dari pakaian Raja Salomo (ayat 27). Betapa Tuhan memperhatikan segala ciptaan-Nya, bahkan yang lemah dan luput dari pengamatan manusia. Jika para murid masih meragukan pemeliharaan Tuhan yang demikian detail, tepatlah jika Yesus menyebut mereka sebagai orang yang kurang percaya! (ayat 28)

Kekhawatiran bisa menghantui ketika kebutuhan sudah beralih fungsi untuk memenuhi kehendak dan kepuasan diri. Kita menetapkan standar sendiri dan gelisah ketika Tuhan tidak memenuhinya. Hidup tidak lagi dijalani untuk Tuhan yang menciptakan kita dan bergantung pada pemeliharaan-Nya, tetapi untuk hasrat diri dan cara yang kita ingini. Adakah hal tersebut yang menyebabkan kekhawatiran Anda hari ini?



Kekhawatiran akan berganti kelegaan
ketika fokus pada diri dialihkan pada Tuhan.