Rabu, 27 Februari 2013

Hidupku Pancaran Hatiku

Pembacaan alkitab, amsal 4:20-27

Jagalah hatimu dengan
segala kewaspadaan,
karena dari situlah
terpancar kehidupan.
(AMSAL 4:23)
Pusat penelitian Wright Air Patterson di Ohio, Amerika Serikat, kabarnya sedang mengembangkan teknologi menerbangkan pesawat terbaru. Para peneliti membuat helm khusus yang dilengkapi alat sensor yang berfungsi menangkap sinyal-sinyal di beberapa titik kepala seorang pilot, sehingga pesawat itu dapat diterbangkan melalui kendali pikiran. Jika seorang pilot tak konsentrasi, pesawat akan jatuh menghantam bumi. Oleh karenanya, penting bagi seorang pilot berkonsentrasi dan mengendalikan pikirannya dengan baik.

Kehebatan teknologi ini mengingatkan kita kepada peringatan yang Salomo tulis agar kita menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan (ayat 23), sebab hati manusia memancarkan kehidupan. Alkitab versi FAYH memberi penjelasan yang gemblang tentang hal ini, yaitu “jagalah hatimu, karena hatimu memengaruhi segala sesuatu dalam hidupmu”. Setiap tindakan dan perilaku kita merupakan buah yang tampak dari apa yang ada dalam hati kita. Oleh karena itu, Salomo mengingatkan kita untuk waspada terhadap hal-hal yang mengendalikan hati kita, karena cepat atau lambat apa yang ada di hati kita akan mengendalikan setiap pikiran, tindakan, dan perkataan kita. Hanya ketika hati kita dikendalikan dengan didikan yang baik dan hikmat dari Tuhan, kita akan dimampukan untuk menjalani hidup tidak menyimapng ke kanan atau ke kiri, menjauhkan kaki dari kejahatan (ayat 27).

Mari menilik hati. Sudahkah kita menjaganya dengan kewaspadaan? Ataukah dosa yang pegang kendali? Arahkanlah perhatian dan telinga kita kepada hikmat yang dari Tuhan (ayat 20) dan menyimpannya dalam hati (ayat 21) sehingga hidup kita dipengaruhi dengan segala kebaikan yang bersumber dari-Nya.



Saat hati dipenuhi kasih Allah dan pikiran dipenuhi firman Tuhan,
perkataan berkat yang tepat pada waktunya akan mengalir dari
mulut kita.



Privasi


Pembacaan alkitab, ibrani 4:1-16

Tidak ada suatu
makhluk pun yang
tersembunyi di hadapan-
Nya, sebab segala
sesuatu telanjang mata
Dia yang kepada-Nya
kita harus memberikan
pertanggungjawaban
(IBRANI 4:13)
Saat membayangkan apa jadinya jika hak privasi tak pernah ada, tiba-tiba saya menjadi sangat malu. Pasti orang akan heran mengetahui film tidak pantas yang pernah saya tonton, percakapan rahasia saya untuk merusak nama baik orang lain, rencana-rencana busuk saya, atau pikiran-pikiran berdosa yang saya nikmati. Naumun, kenapa saya tak pernah malu kepada Tuhan yang selalu tahu gerak-gerik, motivasi, pikiran, dan rancangan-rancangan yang paling tersembunyi sekalipun. Saya lebih takut pada kekudusan Tuhan.

Salah satu penyebab kurangnya rasa takut atau malu ketika berbuat dosa adalah adanya jaminan keselamatan bagi kita yang beriman kepada Kristus. Memang, kita pasti masuk ke tempat perhentian-Nya yang kekal (ayat 1,3). Namun, kita masih harus mempertanggungjawabkan hidup kita di hadapan-Nya. Itu sebabnya penulis kitab Ibrani meminta kita waspada (ayat 1) serta taat kepada-Nya (ayat 6,11). Kita harus memegang erat firman Allah untuk menjaga hidup kita tetap bersih (ayat 12). Sebaliknya, ketika kita menyadari dosa, kita meski berani menghampiri takhta-Nya (ayat 16). Sebab, Kristus Iman Besar kita (ayat 14,15) yang mendamaikan kita dengan Allah.

Jadi, ada dua sikap yang tampaknya bertentangan, tetapi harus ada secara bersamaan dalam diri orang percaya. Pertama, sikap takut berbuat dosa; kedua, sikap berani menghampiri Tuhan Yang Mahakudus. Kita harus menyadari bahwa tak ada yang dapat kita sembunyikan dari pandangan-Nya. Di lain pihak, setiap kali kita berdosa, kita mesti punya keberanian untuk segera datang kepada-Nya, memohon pengampunan.




Kekudusan Tuhan membuat kita hidup hati-hati di hadapan-Nya.
Kasih karunia Tuhan membuat kita berani menghampiriNya.


Minggu, 24 Februari 2013

Teh yang Hambar


Pembacaan alkitab, yakobus 2:14-26

... iman bekerja sama
dengan perbuatan-
perbuatannya
dan oleh perbuatan-
perbuatan itu iman
menjadi sempurna.
(YAKOBUS 2:22)
Di suatu sore yang dingin, dua pemuda mampir ke angkringan memesan teh hangat. Selang beberapa menit, dua gelas teh yang masih mengepul telah terhidang. Sama persis. Setelah menyeruput sedikit, yang seorang berkata, “Kawan, sepertinya minuman kita tertukar. Teh ini rasanya hambar pada hal saya memesan teh manis”. Temanya menyeruput teh di depannya, “Tapi, ini teh tawar sesuai pesanan saya. Minuman kita tidak tertukar”. Setelah diamati, minuman mereka memang tidak tertukar. Di dasar gelas pertama, ada gula setinggi sati centimeter. Gulanya belum diaduk, sehingga tehnya rasanya hambar. Setelah gula itu diaduk, barulah teh manis bisa dinikmati.

Kehidupan orang kristiani juga seringkali demikian, sukar dibedakan dari yang bukan kristiani. Banyak orang nonkristiani juga percaya kepada Tuhan yang Mahaesa, rajin beribadah dan berbuat baik. Rasul Yakobus bukan mengingatkan bahwa setan-setan pun percaya kepada Tuhan dan gemetar terhadap-Nya (ayat 18). Perbedaan baru bisa dirasakan ketika iman itu menyatu dengan perbuatan (ayat 22). Yakobus mencontohkan: ketaatan Abraham menunjukkan imannya kepada Allah yang berkuasa dan menepati janji-Nya; tindakan Rahab menunjukkan imannya kepada Allah Israel. Iman perlu “diaduk” sehingga menyatu dengan perbuatan kita sehari-hari.

Proses “diaduk” menjadi proses yang memerlukan kerendahan hati dan kerap terlewat dalam kehidupan beriman kita sehingga terkadang keberadaan kita di tengah masyarakat tak bisa memberi “rasa” apa-apa. Mari memeriksa diri” Apakah yang saya yakini tentang Allah dapat dirasakan dalam perbuatan saya? Apakah lewat perbuatan saya, orang bisa mengenali iman saya kepada Allah?



Banyak perbuatan baik bisa dilakukan tanpa iman kepada Kristus,
tetapi tak mungkin kita mengaku beriman tanpa berbuat baik.